PASANG SURUT MUSIK UNDERGROUND DI BALI, DULU DAN KINI (2-HABIS)

Major Label Bukan Jaminan Untuk Eksis
Pada umumnya komunitas underground lebih mandiri dalam berkarya dan mendistribusikannya. Sebagian dari mereka justru tak betah di perusahaan rekaman besar (mayor label) dan balik ke indie.

MENGURAI lebih jauh tentang eksistensi indie label memang perlu pemahaman lebih. Terkait eksistensi komunitas underground Bali yang terkesan tenggelam, Moel menilai itu lebih disebabkan faktor tidak munculnya di media. Selain itu, komunitas underground umumnya punya media sendiri. "Sebetulnya baru sekarang saja seperti itu (tenggelam). Sebetulnya hanya missing link saja. Karena dulu underground sering muncul di media, "ujar Moel Madness.

   Disinggung mengenai label, Moel menilai tingkat ketergantungan di komunitas underground sangat kecil. Karena kebanyakan punya label sendiri dengan pemasaran yang memanfaatkan network sendiri. Dalam pengamatanna saat ini, memang ada beberapa kelompok musik yang digaet major label. Tapi tak sedikit di antara mereka keluar. 

   "Banyak yang tadinya bersama mayor label, keluar. Contohnya adalah Burgerkill. Karena network kami lebih besar dari pada label itu. Kita walau kecil tapi tersebar merata di semua wilayah, "bebernya.
   Meski punya komunitasnya sendiri, bukan berarti berkara di jalur underground bisa berjalan mulus. Karena segala aktivitas di jalur ini dimodali sendiri, apa adanya. Menurutnya, untuk bisa bertahan di jalur ini, konsistensi sangat dibutuhkan.
   Dan, memang untuk itu tidak gampang. Perlu pemahaman visi yang kuat di bagi musisi underground untuk menekuni dunianya. Karena memang mereka dituntut mandiri dalam mengelola ideologi musiknya.
   "Konsistensi itu penting. Tapi generasi sekarang jauh lebih bagus dibandingkan yang dulu. Saya sendiri kaget. Banyak kelompok musik underground yang bermain bagus. Bahkan pemainnya bisa baca notasi, "akunya memuji. "mungkin karena pengaruh teknologi yang memudahkan proses belajarnya. Seingat saya, dulu mencari drummer di bali dengan skill sesuai yang dibutuhkan sangat sulit. Contohnya, Bersimbah Darah, "pungkas Moel, memberi gambaran tentang aktivitas komunitas "bawah tanah" yang tetap sediakala ini. (chairul amri simabur/pit)

sumber : kolom huburan & budaya, koran radar bali. kamis 16 februari 2012.

BACA JUGA : PASANG SURUT MUSIK UNDERGROUND DI BALI, DULU DAN KINI (1)
Post a Comment