PASANG SURUT MUSIK UNDERGROUND DI BALI, DULU DAN KINI (1)

Tetap Serius Berkarya di "Bawah Tanah"
Tak seingar bingar era 1990-an dulu, bukan berarti musik underground sudah mati. Justru komunitas "bawah tanah" ini tetap menggeliat beraktivitas. Proses kreatif mereka tetap sediakala, meski dari luar seperti tak terlihat.

   MISSING LINK, itulah yang menjadi alasan utama mengapa komunitas underground terlihat tenggelam dimasa sekarang. Padahal di era 1990-an, komunitas ini begitu eksis. Masa itu melahirkan beberapa kelompok musik dengan ide dan karya-karya yang menentang sistem masa itu.
  Menurut aktivis underground Moel Madness, bila dikaitkan dengan kemunculannya, genre underground memang selalu identik dengan perlawanan. Di era 90-an, ketika indonesia masih berada di bawah pemerintahan Orde Baru yang begitu represif, jalur underground menjadi salah satu bentuk perlawanan pada masa itu.  "Mungkin karena sistem yang sudah berubah di masa sekarang, underground terkesan tidak kelihatan. Selain faktor missing link dengan media saat ini, "ujar Moel ketika menjadi pembicara dalam diskusi kreatif, Dapur Olah Kreatif (DOK), Sabtu 12 Februari 2012 silam. Walau kesan yang muncul dimasyarakat seperti itu, Moel justru mengungkapkan hal yang sebaliknya. Komunitas underground di masa sekarang justru lebih hidup. Meski tidak terdengar gemanya. "Proses kreatif kita sebarkan. Bukan hanya di Bali saja lho. Ini yang membedakan musik kita dibandingkan dengan genre lainnya, " tukas Moel.\
   Vokalis sekaligus pembentot bass ETERNAL MADNESS ini justru membeberkan, musik undergrounddan metal dari Bali justru populer diluar Bali. Tak hanya di level indonesia, tapi diluar negeri pula. "Sampai jepang, Amerika, dan Erop. Karena komunitas underground ini mengandalkan networking yang luas untuk peredaran karya-karyanya," tukasnya.  Keunggulan dari sisi koneksi ini, sambung Moel, dimanfaatkan sendiri oleh kelompok musiknya. Ini dia terapkan dalam menghelat sejumlah gigs regular. "Bahkan karena network tersebut, eternal madness muncul dalam buku terbitan Swedia. Di buku itu, nama band kita disebut sebagai salah satu band terbaik Asia Tenggara. Artinya, komunitas kita di Bali punya pengaruh besar di luar sana," ujar Moel mengilustrasikan. (chairul amri simabur/pit)

sumber : kolom hiburan & budaya, koran radar bali. rabu 15 februari 2012

BACA JUGA : PASANG SURUT MUSIK UNDERGROUND DIBALI, DULU DAN KINI (2-HABIS)
Post a Comment